Langsung ke konten utama

Sejarah Kota Kuningan

Sejarah Kota Kuningan

 Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Kuningan telah menetapkan peraturan daerah nomor: 21/DP.003/XII/1978 tanggal 14 Desember 1978 tentang Sejarah Dan Hari Jadi Kuningan. Berdasarkan peraturan daerah tersebut, sejarah Kuningan disusun sejak mulai ada tanda-tanda pemukiman atau perkampungan yang telah mempunyai pemerintahan hingga perkembangannya sampai sekarang.

“SEJARAH HARI JADI KUNINGAN” ini adalah merupakan ringkasan peraturan daerah tersebut dengan lampirannya yang secara garis besar adalah sebagai berikut:

Kira-kira 3500 tahun sebelum masehi, tanda-tanda yang memberitahukan bahwa di Kuningan sudah ada pemukiman masyarakat yang sudah mencapai tingkat kebudayaan yang relatif sudah maju. hal ini berdasarkan atas hasil peninggalannya yang ditemukan di wilayah Kuningan.

Suatu pemukiman masyarakat dimaksud, baru terwujud dalam bentuk suatu kekuatan politik seperti negara sebagaimana dituturkan dalam cerita Parahiyangan dengan nama “Kuningan” pada tanggal 11 April 732 M.

Negara/kerajaan Kuningan tersebut terjadi sesudah penobatan Seuweukarma  sebagai raja/kepala pemerintahan, yang kemudian bergelar Rahiangtang Kuku atau disebut juga Sang Kuku yang bersemayam di Arile dan Saunggalah. ia menganut ajaran Dangiang Kuning” yang berpegang kepada “Sanghiang Darma” dan “Sanghiang Siksa”, yang memberikan 10 pedoman hidup, yaitu :

  • Tidak membunuh mahluk hidup,
  • Tidak mencuri,
  • Tidak berzinah,
  • Tidak berdusta,
  • Tidak mabuk,
  • Tidak makan bukan pada waktunya,
  • Tidak menonton, menari, menyanyi dan bermain musik,
  • Tidak mewah dalam berbusana,
  • Tidak tidur ditempat yang empuk,
  • Tidak menerima emas dan perak.

Seuweukarma bertahta sampai dengan usia yang cukup panjang, kemudian timbul persaingan antara pemerintahan Seuweukarma dengan Sanjaya yang memegang kekuasaan daerah kerajaan Galuh sebelah timur.

Setelah Sanjaya memerintah Kuningan selama 9 (sembilan) tahun, kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Rahiang Tamperan. Rahiang Tamperan mempunyai 2 (dua) orang putra yaitu Sang Manarah dan Rahiang Banga. Setelah dewasa Sang Manarah menjadi raja di sebelah timur sedangkan Rahiang Banga menguasai daerah Kuningan yang dahulu dibawah kekuasaan Rahiangtang Kuku.

Pada tanggal 22 Juli 1175 Masehi Kuningan dijadikan pusat pemerintahan Kerajaan Sunda dibawah Rakean Darmasiksa putra ke-12 Rahiang Banga. Setelah bertahta selama 12 tahun di Saunggalah, kemudian keraton dipindahkan oleh Rakean Darmasiksa ke Pakuan Pajajaran.

Selanjutnya Kuningan merupakan bagian dari Kerajaan Pajajaran dan namanya berganti menjadi Kajene yang ada dibawah kekuasaan Aria Kamuning. Kajene artinya “kuning” atau “emas”.

Dalam rangka penyebaran agama Islam, seorang ulama besar dari Caruban (Cirebon) yang benama Syekh Maulana Akbar pernah singgah di Buni Haji daerah Luragung kemudian melanjutkan perjalanannya menuju Kajene yang pada waktu itu penduduknya masih menganut agama Hindu.

Syekh Maulana Akbar mendirikan pesantren di Sidapurna yang berkembang pesat dan karena pengikutnya bertambah banyak maka beliau membuat pemukiman baru dengan dasar Islam yang diberi nama Purwawinangun (artinya: mula-mula dibangun). Syekh Maulana Akbar meninggal dan dimakamkan di Astana Gede.

Pada tahun 1481 M, Syarif Hidayatullah yang dikenal dengan julukan Sunan Gunung Jati datang di Luragung. pada waktu itu Ki Gedeng Luragung sebagai kepala pemerintahan yang kemudian masuk agama Islam.

Pada waktu yang bersamaan datanglah putri Ong Tien dari Cina menyusul ke Luragung kemudian melangsungkan pernikahan dengan Syarif Hidayatullah. putri Ong Tien berganti nama menjadi Ratu Mas Rara Sumanding.

Syarif Hidayatullah dan istrinya Ong Tien pada waktu itu sepakat untuk mengangkat putra Ki Gedeng Luragung yang masih bayi menjadi putranya yang diberi nama Sang Adipati. Syarif Hidayatullah bersama Ong Tien dan putra angkatnya kemudian berangkat menuju Kajene.

Pada saat itu yang menjalankan pemerintahan Kajene adalah pangeran Aria Kamuning yang menganut agama Hindu dan kemudian masuk agama Islam. Sang Adipati dipercayakan kepada pangeran Aria Kamuning untuk dididik dengan baik. selama Sang Adipati belum dewasa maka pangeran Aria Kamuning ditunjuk oleh Sunan Gunung Jati sebagai kepala pemerintahan perwalian di Kajene dibawah kerajaan Cirebon.

Setelah Sang Adipati dewasa, tepatnya pada tanggal 1 September 1498 M, Sang Adipati dinobatkan menjadi kepala pemerintahan Kajene yang bergelar Sang Adipati Kuningan.

Dengan berdirinya negara / kerajaan Kuningan di bawah Sang Adipati Kuningan, maka sejak tanggal penobatannya daerah yang semula bernama Kajene di kembalikan lagi ke nama aslinya yaitu ‘’Kuningan”. dan sejak saat itulah tanggal 1 September ditetapkan sebagai hari jadi Kuningan.

Selain dibantu oleh Aria Kamuning dalam mengatur jalannya pemerintahan, Sang Adipati Kuningan juga dibantu oleh Dipati Ewangga atau disebut Dipati Cangkuang dan Rama Jaksa. Dipati Ewangga memiliki kuda tunggangan yang diberi nama Si Windu.

Untuk lebih meresapkan agama Islam di kalangan penduduk Kuningan, Sunan Gunung Jati mengirim Syekh Rama Haji Irengan dan beliau memilih tempat kediamannya di Darma. dengan bantuan para wali beliau membuat kolam (balong) yang sekarang dikenal dengan nama Balong Kancra atau Balong Kramat atau Darma Loka.

Sang Adipati Kuningan bersama pasukan Kuningan dibawah pemerintahan Cirebon telah turut serta bertempur untuk menundukan Galuh dan membantu mendirikan pemerintahan Wiralodra di Indramayu dibawah pimpinan Fatahillah Cirebon.

Pasukan Kuningan juga ikut menggempur Sunda Kelapa dan turut serta mendirikan pemerintahan Jayakarta sehingga pasukan dari Kuningan ada yang menetap di Jayakarta dan sekarang nama Kuningan terukir menjadi nama salah satu kelurahan di wilayah Jakarta Selatan yaitu kelurahan Kuningan.

Berkat nilai-nilai luhur jiwa juang para leluhur Kuningan yang diwariskan kepada anak cucunya, pada zaman Hindia Belanda karena perlawanannya seorang ulama besar dari Lengkong yaitu Eyang Hasan Maolani oleh Pemerintah Hindia Belanda telah dibuang/diasingkan ke Gorontalo Sulawesi Utara dan meninggal di Gorontalo.

Di dalam usaha mempertahankan kemerdekaan, pemerintah Indonesia mengadakan serangkaian perundingan dengan Belanda. salah satu perundingan dilakukan di Linggarjati, yang pada saat itu belum dikuasai Belanda. pemilihan Linggarjati sebagai tempat perundingan merupakan sesuatu pilihan yang tepat, baik dilihat dari segi politis maupun dari segi keindahan alamnya. dengan adanya perundingan tersebut maka nama Linggarjati tidak hanya dikenal di Indonesia, melainkan juga dikenal di seluruh dunia.

setelah yogyakarta sebagai ibu kota Republik Indonesia diserang oleh tentara Belanda pada tanggal 19 Desember 1948, panglima besar Jenderal Soedirman menginstruksikan untuk membentuk 4(empat) Markas Besar Komando Djawa (MBKD), yang meliputi MBKD Jawa Timur, MBKD Jawa Tengah, MBKD Jawa Barat Dan MBKD Luar Jawa. untuk MBKD Jawa Barat dipimpin oleh Letkol r.k. Sukanda Bratamanggala, yang berkedudukan di desa Subang dan dijadikan basis gerilya melawan Belanda.

Sesuai dengan keputusan dewan pertahanan daerah keresidenan Cirebon dan brigade V, maka Ciwaru dijadikan basis pertahanan dan pusat pemerintahan keresidenan Cirebon. rakyat Ciwaru dengan ikhlas menyerahkan rumah mereka untuk dipergunakan sebagai kantor-kantor, staf militer, pemondokan dan lain-lain. Ciwaru menjadi pusat daerah perjuangan perang kemerdekaan.

Sesudah lewat masa revolusi fisik dan memasuki tahun lima puluhan terdapat masalah-masalah politik, ekonomi, dan sosial, termasuk di dalamnya masalah keamanan yaitu gangguan DI/TII di Kuningan, yang menyebabkan situasi dan kondisi tidak mungkin untuk melaksanakan pembangunan sebagaimana mestinya. Rakyat Kuningan beserta TNI bahu membahu untuk memadamkan pemberontakan DI/TII.

Dalam rangka mengisi kemerdekaan, masyarakat Kabupaten Kuningan dengan semangat juang yang tinggi yang dilandasi nilai gotong royong selalu berkiprah melaksanakan pembangunan menuju masyarakat adil, makmur, sejahtera lahir dan batin berdasarkan Pancasila.

Kepala Pemerintahan Kuningan dari dulu sampai sekarang

  1. ZAMAN HINDU.
    1. Seuweukarma.
    2. Sanjaya.
    3. Rahiang Tamperan.
    4. Rahiang Banga.
    5. Rakean Darmasiksa.
    6. Aria Kamuning.

 

  1. ZAMAN ISLAM.
    1. Aria Kamuning.
    2. Sang Adipati Kuningan.
    3. Geusan Ulun.
    4. Dalem Mangkubumi.

 

  1. ZAMAN PENJAJAHAN BELANDA.
    1. R. Brata Adiningrat.
    2. Doejeh Brataamidjaja.
    3. R. Dali Soerjanataatmadja.
    4. R. Moch. Achmad.
    5. R. Umar Said.

 

  1. ZAMAN JEPANG.
    1. R. Umar Said.

 

  1. ZAMAN RI 1945.
    1. R. Asikin Niti Admadja.

 

  1. ZAMAN PENDUDUKAN NICA ( RECOMBA ).
    1. R. Asikin Joedadibrata.
    2. R. Hollan Soekmadiningrat.
    3. R. Abdoel Rifai.

 

  1. ZAMAN RI 1950 SAMPAI SEKARANG.
    1. R. Noer Armadibrata.
    2. R. Moch. Hafil.
    3. R. Tikok Moch. Ichlas.
    4. R. Soemitra.
    5. Tb. Amin Abdulah.
    6. Saleh Alibasah.
    7. Usman Djatikusumah.
    8. Rd. Komar Suryaatmadja.
    9. S. Soemintaatmadja.
    10. Aruman Wirananggapathi.
    11. Karli Akbar.
    12. R. H. Unang Sunardjo, S.H.
    13. Drs. H. Moch. Djufri Pringadi.
    14. Drs. H. Subandi.
    15. H. Yeng Ds. Partawinata, SH.
    16. Drs. H. Arifin Setiamihardja, MM.
    17. H. Aang Hamid Suganda, S.Sos (Bupati);
      Drs. H. Aan Suharso, Msi. (Wakil Bupati).
    18. H. Aang Hamid Suganda, S.Sos (Bupati);
      Drs. H. Momon Rochmana, MM (Wakil Bupati).
    19. Hj.Utje Choeriah Hamid Suganda, S.Sos,.M.AP (Bupati)
      H. Acep Purnama, SH, MH (Wakil Bupati).
    20. H. Acep Purnama,SH,.MH (Bupati).
      Dede Sembada, St (Wakil Bupati).
    21. H. Acep Purnama,SH,.MH (Bupati).
      Muhammad Ridho Suganda, SH., M.Si.(Wakil Bupati)
Sumber : https://kuningankab.go.id/home/kilas-sejarah-kuningan/


6 Kesenian dan Budaya yang Ada di Kuningan Jawa Barat

 Wilayah Kuningan Jawa Barat sudah tidak asing lagi dengan keindahan alamnya. Banyak wisata alam yang menarik untuk dikunjungi.

Kuningan juga menawarkan banyak pilihan wisata lainnya seperti wisata sejarah, wisata kuliner, atau bahkan wisata kesenian dan budaya.

Kuningan memiliki beberapa kesenian dan budaya turun temurun yang masih dilestarikan sampai saat ini di beberapa daerah, seperti tarian tradisional, olahraga, upacara adat, dan upacara ritual. Semuanya menarik untuk dijadikan wisata budaya.

Berikut ini enam kesenian budaya yang ada di Kuningan Jawa Barat.

1. Sapton dan Panahan Tradisional

Sapton dan panahan tradisional merupakan agenda rutin yang dilakukan setiap hari sabtu setelah kegiatan serba raga (sidang) yang dilaksanakan di sekitar istana kerajaan Kajene (Kuningan).

Kesenian Sapton dan panahan ini mempunyai makna yang dalam yaitu kekuatan, ketangkasan, dan bela negara, serta kebersamaan antara pemerintah dengan rakyat.

Kegiatan seni ini biasa diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan sebagai upaya promosi pelestarian nilai-nilai budaya tradisional dan pariwisata daerah.

2. Seren Taun

Upacara Seren Taun merupakan upacara adat masyarakat agraris sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat yang telah diberikan tahun ini dan tahun selanjutnya.

Seren taun diperingati setiap tanggal 22 Rayagung sesuai perhitungan tanggal Sunda. diikuti seluruh masyarakat adat yang ada di wilayah Cigugur dan berpusat di gedung Paseban Tri Panca Tunggal.

Upacara adat ini disertai dengan berbagai kesenian tradisional seperti damar sewu, pesta dadung, helaran memeron, tari buyung, angklung buncis dan kesenian lainnya yang memiliki maknanya masing-masing.

3. Kawin Cai


Sumber : https://www.jabarhits.com/jawa-barat/pr-4984010994/6-kesenian-dan-budaya-yang-ada-di-kuningan-jawa-barat-cocok-jadi-pilihan-wisata-budaya


Makanan khas Kuningan

Berikut makanan khas Kuningan.

1. Kwecang

Kwecang
Foto: Kwecang (Lazada.co.id)

Makanan khas Kuningan yang pertama adalah kwecang. Makanan ini sangat mirip dengan bacang, tapi ada perbedaan dalam cita rasanya.

Jika bacang memiliki rasa gurih dengan isi potongan daging atau sayuran, kwecang Kuningan ini memiliki rasa yang manis.

Kwecang dibuat menggunakan bahan dasar beras ketan yang dicampur dengan larutan kapur, kemudian dibungkus menggunakan daun bambu.

Biasanya, kwecang disajikan dengan gula pasir sebagai tambahan untuk dicocol.


2. Nasi Kasreng

Nasi Kasreng, Makanan khas Kuningan
Foto: Nasi Kasreng, Makanan khas Kuningan (Kodesjabar.com)

Selain kwecang, makanan khas Kuningan yang tidak boleh dilewatkan adalah Nasi Kasreng.

Nasi Kasreng adalah nasi goreng khas Kuningan yang dibuat dengan bumbu rempah-rempah yang kaya akan cita rasa.

Hidangan ini biasanya disajikan dengan ayam goreng yang garing dan lezat sehingga mampu menambahkan kesempurnaan dalam setiap suapan.

Nasi Kasreng seringkali dihidangkan dengan tambahan seperti telur mata sapi, kerupuk, dan acar, yang semuanya menyempurnakan kombinasi rasa.


3. Ketelimping

Ketelimping
Foto: Ketelimping (Shopee.co.id)

Ketempling merupakan makanan ringan khas Kuningan yang terbuat dari bahan dasar singkong.

Makanan ini menjadi camilan favorit di Kuningan dan memiliki rasa yang gurih serta renyah.

Camilan khas Kuningan ini memiliki nama lain, yakni keripik gemblong.

Perbedaannya, ketempling memiliki bentuk bulat kembung dan bagian tengahnya kopong.

Ketempling biasanya disajikan sebagai camilan ringan dan menjadi salah satu kuliner yang wajib dicicipi ketika berkunjung ke Kuningan.

Makanan ini merupakan bagian dari kekayaan kuliner daerah Kuningan yang patut untuk dinikmati oleh wisatawan maupun masyarakat lokal.


4. Tahu Lamping

Tahu Kopeci

Foto: Tahu Kopeci (Ksmtour.com)

Makanan khas Kuningan selanjutnya adalah tahu lamping yang juga dikenal dengan sebutan tahu kopeci.

Istilah "kopeci" merujuk pada toko yang pertama kali menyajikan hidangan tahu ini, yaitu Tahu Lamping Kopeci yang terletak di Jalan Veteran Jagabaya.

Secara sekilas, tahu lamping mirip dengan tahu Sumedang yang sudah terkenal.

Meski demikian, tekstur tahu lamping memiliki perbedaan signifikan dengan tahu Sumedang.

Tahu Sumedang dikenal dengan kulit yang renyah, sedangkan tahu lamping memiliki tekstur kulit yang berbeda.

Tahu ini akan terasa semakin nikmat jika disantap dalam keadaan hangat bersama dengan lontong dan cabai rawit.


5. Rujak Kangkung

Rujak Kangkung

Foto: Rujak Kangkung (Cookpad.com)

Rujak Kangkung adalah salah satu makanan khas Kuningan yang sangat populer dan diminati oleh penduduk lokal dan para wisatawan.

Hidangan ini terbuat dari campuran sayuran segar, seperti kangkung, kacang panjang, dan tauge, yang kemudian disiram dengan bumbu rujak.

Di Kuningan, hidangan ini biasanya disajikan dengan sambal asem dan kerupuk mi sebagai pelengkapnya, dengan harga sekitar Rp 10.000 per porsi.

Rujak kangkung cocok bagi Moms yang bosan dengan rujak buah karena rasanya hampir mirip.


6. Peyeum Ketan

Peyeum Ketan
Foto: Peyeum Ketan (Indonesiakaya.com)

Di Kabupaten Kuningan, terdapat sebuah kreasi unik dari tape ketan yang dikenal sebagai peuyeum ketan.

Peyeum ketan termasuk dalam deretan makanan khas Kuningan yang cukup populer.

Makanan ini dibuat dari bahan dasar ketan, yaitu beras yang kaya akan pati dan memiliki tekstur yang lengket ketika dimasak.

Untuk membuat peuyeum ketan, beras ketan terlebih dahulu direndam dalam air, kemudian dimasak hingga matang dan lengket.

Setelah itu, ketan yang sudah matang didinginkan hingga mencapai suhu ruangan.

Langkah selanjutnya adalah menambahkan ragi tape. Ragi ini akan mengubah gula yang terkandung dalam ketan menjadi alkohol dan karbon dioksida melalui proses fermentasi.

Peuyeum ketan sering disajikan sebagai cemilan atau digunakan sebagai bahan dalam pembuatan makanan lain, seperti kolak, es campur, atau bahkan dalam pembuatan kue.


7. Keripik Gadung

Keripik Gadung
Foto: Keripik Gadung (Lintaskuningan.blogspot.com)

Makanan khas Kuningan selanjutnya adalah keripik gadung. Keripik gadung merupakan makanan ringan yang dihasilkan dari tanaman yang memiliki kemiripan dengan gadung.

Pengolahan keripik gadung memerlukan proses yang teliti dan higienis, karena jika tidak diolah dengan benar, dapat menghasilkan zat beracun yang berbahaya untuk dikonsumsi.

Oleh karena itu, keselamatan dan kebersihan dalam pengolahan keripik gadung sangat penting untuk memastikan bahwa produk akhirnya aman dan lezat untuk dinikmati.


8. Kue Satu

Kue Satu
Foto: Kue Satu (Shopee.co.id)

Salah satu makanan khas Kuningan yang perlu Moms coba adalah kue satu.

Kue ini memiliki bentuk yang menyerupai angka satu dan terbuat dari bahan dasar kacang hijau yang telah disangrai, dihaluskan, dan dicampur dengan gula halus.

Proses selanjutnya adalah pencetakan adonan kue satu menggunakan cetakan kayu.

Kue satu merupakan makanan khas Kuningan yang unik karena tidak ada proses pemanggangan atau penggorengan.

Sebaliknya, kue satu dikeringkan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari hingga benar-benar kering.

Hasil akhirnya adalah makanan ringan yang renyah dan manis dengan cita rasa khas kacang hijau.


9. Hucap

Hucap
Foto: Hucap (Indonesiakaya.com)

Makanan khas Kuningan yang terakhir adalah hucap yang merupakan tahu kecap sebagai dua bahan utama dalam makanan ini.

Penampilannya mirip dengan kupat tahu Jawa Barat, tetapi rasanya lebih manis karena menggunakan banyak kecap.

Hucap biasanya disantap untuk menu sarapan dan lebih banyak dijual pada pagi hari.

Hucap terdiri dari potongan ketupat yang lembut dan tahu goreng, kemudian dibumbui dengan saus kacang dan kecap.

Berbeda dengan kupat tahu, hucap tidak memiliki tambahan tauge dan kondimen lain dalam hidangannya.

Hucap sering kali disebut oleh masyarakat Kuningan dengan nama kupat tahu. Makanan ini merupakan kuliner khas warga Kuningan, Jawa Barat.


Sumber : https://www.orami.co.id/magazine/makanan-khas-kuningan?page=2


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Dan Kebudayaan Sunan Gunung Jati

  Sunan Gunung Jati 7 bahasa Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatulloh) Sultan Cirebon  ke-1 Masa jabatan 1482–1568 Pendahulu Jabatan baru Pengganti Fatahillah Tumenggung Cirebon Masa jabatan 1479–1482 Pendahulu Pangeran Cakrabuana Pengganti Jabatan dihapus Informasi pribadi Lahir Syarif Hidayatullah 1448 Meninggal 19 September 1568 Kesultanan Cirebon Makam Astana Gunung Sembung Agama Islam Pasangan Nyai Ratu Dewi Pakungwati Nyai Ratu Kawunganten Nyai Babadan Nyai Ageng Tepasari Nyai Lara Baghdad Ong Tien Nio Anak Sabakingking Pasarean Ratu Ayu Winahon Trusmi Bratakelana Jayalelana Orang tua Syarif Abdullah Umdatuddin  (ayah) Rara Santang  (ibu) Denominasi Sunni Dikenal sebagai Wali Sanga Pemimpin Muslim Pendahulu Maulana Muhammad Ali Akbar Penerus Maulana Hasanuddin Sunan Gunung Jati , lahir dengan nama  Hidayatullah  atau lebih di kenal sebagai Sayyid Al-Kamil adalah salah seorang dari  Walisongo , ia dilahirkan Tahun  1448   Masehi ...

Sejarah Dan Kebudayaan Minangkabau

  Budaya Minangkabau   adalah kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat   Minangkabau   dan berkembang di seluruh kawasan berikut daerah perantauan Minangkabau. Budaya ini merupakan salah satu dari dua kebudayaan besar di   Nusantara   yang sangat menonjol dan berpengaruh. Budaya ini memiliki sifat egaliter, demokratis, dan sintetik, yang menjadi anti-tesis bagi kebudayaan besar lainnya, yakni   budaya Jawa   yang bersifat   feodal   dan sinkretik. [1] Berbeda dengan kebanyakan budaya yang berkembang di dunia yang menganut sistem patrilineal, budaya Minangkabau justru menganut sistem  matrilineal  baik dalam hal pernikahan, persukuan, warisan, gelar adat dan sebagainya. Sejarah Berdasarkan historis, budaya Minangkabau berasal dari  Luhak Nan Tigo , yang kemudian menyebar ke wilayah rantau di sisi barat, timur, utara dan selatan dari Luhak Nan Tigo. [2]  Saat ini wilayah budaya Minangkabau meliputi  Sumatera Barat ...

Sejarah Dan Kebudayaan Kota Surakarta

  Kota Surakarta   ( Jawa :   Hanacaraka : ꦯꦹꦫꦏꦂꦡ,  Pegon : سوراكارتا ,   pengucapan bahasa Jawa:  [surɔˈkart̪ɔ] ) atau   Solo   ( Jawa :   ꦯꦴꦭ ,   translit.   Sala ,   pengucapan bahasa Jawa:  [sɔlɔ] ) adalah salah satu   kota   di provinsi   Jawa Tengah , Indonesia, dengan luas 44,04 km 2 . Pada   2020 , penduduk Surakarta sebanyak 522.364 jiwa, dengan kepadatan sebanyak 11.861 jiwa/km 2 , [11]   dan pada pertengahan tahun   2023 , jumlah penduduk Surakarta sebanyak 586.166 jiwa. [9] Kota ini merupakan kota terbesar ketiga di pulau Jawa bagian selatan setelah  Kota Malang ,  Jawa Timur  dan  Kota Bandung ,  Jawa Barat  menurut jumlah penduduk. Sisi Timur kota ini dilewati sungai yang terabadikan dalam salah satu lagu  keroncong ,  Bengawan Solo . Kota ini termasuk dalam kawasan  Solo Raya , sebagai kota utama. Bersama dengan  Yogyakarta ...